Hendryswong's Blog

Just another WordPress.com site

Efek Samping Antibiotik Pada Anak

Posted by hendryswong pada Oktober 21, 2010


Antibiotik merupakan salah zat yang sangat berguna dalam
dunia farmasi. Beberapa dokter anak kerap menggunakan antibiotik dalam resep dokter untuk
menyembuhkan berbagai keluhan yang diberikan oleh pasien anak. Namun demikian ibu perlu
waspada karena penggunaan antibiotik secara tidak rasional sebetulnya tidak diperkenankan dan
justru menimbulkan efek yang kurang baik bagi pasien.

 

Definisi

Dalam penggunaan umum, antibiotik merupakan substansi atau gabungan (juga disebut obat chemotherapeutic) yang membunuh atau menghalangi pertumbuhan bakteri. Antibiotik tergolong ke dalam kelompok antimicrobial yang  digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, termasuk jamur dan protozoa.

Istilah “antibiotik”  diciptakan  oleh Selman Waksman pada 1942 untuk menjelaskan suatu zat yang dihasilkan oleh mikro-organisme yang menahan perkembangan mikro-organisme lainnya dalam suatu cairan yang sangat encer. definisi asli ini dikecualikan terhadap substansi alami dalam tubuh seperti getah perut dan hidrogen peroksida (mereka membunuh bakteri tetapi tidak diproduksi oleh mikro-organisme), dan juga dikecualikan terhadap senyawa  sintetis seperti sulfonamida (obat antimicrobial). Banyak antibiotik yang memiliki molekul yang relatif kecil dengan berat molekul kurang dari 2000 Da.

Dengan kemajuan perkembangan obat-obat kimia, sebagian besar antibiotik telah dimodifikasi secara kimia  dari ramuan aslinya di alam, seperti halnya dengan beta-lactam (termasuk penicillin, yang dihasilkan oleh jamur dalam genus Penicillium, cephalosporins, dan carbapenem). Beberapa antibiotik masih diproduksi dengan mengisolasi organisme hidup, seperti aminoglycosida; di samping itu, masih banyak lagi antibiotik yang dibuat melalui sintetis murni, seperti quinolone.

 

 

Pharmacodinamika antimikrobial

Kemampuan setiap antibiotik bervariasi, tergantung kepada lokasi infeksi, lokasi infeksi, dan kemampuan mikroba menonaktifkan atau memecah antibiotik. Pada tingkat tertinggi, antibiotik dapat diklasifikasikan sebagai salah satu baktericidal atau bakteriostatic. Bactericidal membunuh bakteri secara langsung sedangan bacteriostatic-nya menjaga divisi sel. Namun demikian, klasifikasi ini didasarkan pada perilakunya di laboratorium, dalam praktiknya, keduanya memang (kebanyakan) mampu mengakhiri infeksi bakteri. Kegiatan antibiotik  bactericidal mungkin tergantung tahap pertumbuhan sel dan pada kebanyakan kasus, tindakan antibiotik bactericidal banyak membutuhkan aktifitas sel tanpa henti untuk melancarkan aktivitas membunuhnya. Kegiatan antibiotik mungkin tergantung tingkat konsentrasi dan aktivitas karakteristik antimicrobial.

Tata laksana
Antibiotik oral secara sedehana dimasukkan dalam infus, sementara antibiotik suntik  digunakan dalam kasus yang lebih serius, seperti pada infeksi sistemik. Antibiotik kadang-kadang dilakukan secara topikal (topically) seperti dengan meneteskan pada mata atau ointment.

Kelas antibiotik
Tidak seperti pengobatan sebelumnya, yang pengobatan untuk infeksi-nya seringkali terdiri dari campuran kimia seperti strychnine dan Arsenic  (dengan racun tinggi terhadap mamalia), kebanyakan antibiotika dari mikroba memiliki efek samping yang lebih sedikit dan memiliki efektifitaS tinggi untuk mencapai sasaran kegiatan. Antibiotik anti bakteri tidak memiliki aktivitas terhadap virus, jamur, atau mikroba lainnya. Antibiotik anti-bakteri dapat dikategorikan berdasarkan target ketegasan: “spektrum sempit” untuk target antibiotik jenis bakteri tertentu (seperti Gram-negatif atau positif). Sedangkan dalam spektrum luas, antibiotik bisa mempengaruhi bakteri. Antibiotik dengan target dinding sel bakteri (penicillins, cephalosporins), atau selaput  sel (polymixins), atau dengan mengganggu enzim-enzim penting bakteri (quinolones, sulfonamides) biasanya adalah bactericidal yang berasal dari alam. Sedangkan antibiotik yang menargetkan sintesis protein mikroba contohnya aminoglycosida, macrolida dan tetracycline.

Penisilin oleh Alexander flemming

Penisilin oleh Alexander flemming

Efek samping

Menurut penelitian memang bayi termasuk golongan usia yang biasa menjadi obyek penjualan

antibiotik melalui berbagai resep yang dikeluarkan oleh dokter anak. Sampai saat ini memang
masih kerap ditemui adanya dokter anak yang memperlihatkan sikap tidak suka ketika
menghadapi pasien yang suka bertanya dan kritis. Berlawanan dengan itu ada juga pasien yang
memiliki sikap pasrah atas apapun resep dokter yang diberikan untuk anak/bayi.

Antibiotik berasal dari kata anti dan bios (hidup, kehidupan). Antibiotik sebagai satu kesatuan
merupakan salah satu zat yang dapat digunakan untuk membunuh dan melemahkan bakteri,
parasit ataupun jamur. Perlu diketahui bahwa antibiotik sama sekali tidak bisa membunuh virus
karena virus tidak dapat berkembang biak secara mandiri dan memerlukan materi genetik dari sel
yang ditumpanginya.

Nah setelah ibu mengetahui hal ini maka tanyakan kepada diri kita berapa banyak dokter anak
yang sering meresepkan antibiotik dalam obat ketika bayi/anak menderita sakit flu yang
disebabkan virus. Perlu diketahui bahwa pemberian antibiotik kepada pasien flu akibat virus
sebetulnya tidak tepat.

Dokter sebetulnya cenderung meresepkan antibiotik karena banyak sekali orang tua yang
menginginkan agar obat yang diberikan dokter cepat menyembuhkan bayi. Karena hal inilah
seringnya dokter langsung meresepkan antibiotik dalam obat anak yang biasanya berbentuk
puyer.

Ibu perlu memiliki sikap kritis mengenai hal ini. Jangan segan untuk bertanya kepada dokter
apakah anak benar-benar membutuhkan antibiotik terlebih lagi bila penyakit disebabkan oleh
virus. Dokter mungkin beralasan bahwa antibiotik harus diberikan untuk menjaga stamina tubuh
bayi dengan maksud menjaga agar tidak ada virus dan kuman lain yang menyerang.

Bayi memiliki sistem imunitas sendiri sehingga bila dia terserang penyakit infeksi, imunitas bayi
terpicu untuk bekerja lebih giat lagi dan menngatasi virus tersebut. Infeksi karena virus dapat
diatasi dengan memperbanyak istirahat dan memperhatikan asupan makanan. Bila panas
melebihi 38.5 derajat celcius maka perlu diberi obat penurun panas dan bukan antibiotik.

Antibiotik yang diberi tidak seharusnya kepada anak malah merusak sistem kekebalan tubuh bayi
dan anak.

Antibiotik justru akan menurunkan daya tahan anak (imunitas) dan bahkan lebih mudah untuk
terjangkit penyakit lagi. Inilah mengapa anak yang terlalu sering diberi antibiotik akan lebih
cepat sakit dan berulang lagi proses ini sehingga kunjungan ke dokter bertambah dan anak
menjadi semakin mudah sakit.

Antibiotik dibutuhkan ketika kita terserang infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sebuah contohpenyakit yang membutuhkan antibiotik adalah infeksi bakteri yang menyebabkan infeksi telinga,infeksi sinus berat, radang tenggorokan, infeksi saluran kemuh, tifus, tuberkolosis dan diare.

Nah perlu ibu ketahui bahwa menurut sebuah penelitian, terbukti bahwa 80-90 persen kasus
radang tenggorokan bayi tidak disebabkan oleh infeksi bakteri streptokokus. Karena hal ini
penanganannya sama sekali tidak memerlukan pemberian antibiotik. Radang tenggorokan karena
infeksi streptokokus juga jarang sekali terjadi pada usia di bawah dua tahun atau bahkan di
bawah empat tahun

Bila anak terlalu banyak diberi antibiotik maka akan terjadi gangguan saluran cerna, seperti

diare, mual, muntah, mulas/kolik, ruam kulit, hingga pembengkakan bibir, kelopak mata, hinggagangguan napas.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotik di usia dini dapatmengakibatkan terjadinya alergi di masa yang akan datang.

Efek samping lain yang mungkin terjadi karena pemberian antibiotik yang terlalu banyak adalah
terjadi demam, gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat
menekan sumsum tulang dan mengakibatkan menurunnya produksi sel-sel darah. Efek samping
lain adalah munculnya kelainan hati pada penggunaan antibiotik eritromisin, flucloxacillin,

nitrofurantoin, trimetoprim, sulfonamid.

Golongan amoxycillin clavulinic acid dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic
hepatitis. Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin
dapat menyebabkan gangguan ginjal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: