Hendryswong's Blog

Just another WordPress.com site

  • Klik tertinggi

    • Tak ada
  • Pengunjung

    • 270,178 hits

Mengenal Tektonik Lempeng Bumi (Postingan 100)

Posted by hendryswong pada November 1, 2010


Tektonik Lempeng

26/06/2010

Teori tektonik lempeng (plate tectonic) adalah teori yang menjelaskan pergerakan yang terjadi di kulit bumi sehingga memunculkan bentuk permukaan bumi seperti yang sekarang kita diami. Teori ini dikembangkan sekitar 1960an, dan merupakan turunan dari teori-teori yang dikemukakan sebelumnya tentang pembentukan benua, terutama sekali hipotesis pergeseran benua (Continental Drift) yang dikemukan Alfred Wegener pada 1912.

Inti dari teori tektonik lempeng adalah bahwa kulit bumi (litosfer) tidak berupa padatan yang menyatu keseluruhannya, melainkan terpecah-pecah dalam lempengan. Masing-masing lempeng bergerak dengan kecepatan rata-rata 50 – 100 mm per tahun, dan gerak lempeng tersebut menjadi alasan kenapa muncul fenomena gempa dan adanya gunung.

Struktur Bumi dan Gerak Lempeng

Struktur bumi dibagi atas lapisan-lapisan yaitu (diurutkan dari bagian terluar):

  1. Litosfer (Lithosphere)
    • Kerak bumi (Crust)
    • Sebagian kecil mantel bagian atas
  2. Mantel (Mantle)
    • Astenosfer (Astenosphere)
    • Mantel atas
    • Mantel bawah
  3. Inti (Core)
    • Inti luar (Outer core)
    • Inti dalam (Inner core)

Inti terdalam bumi berada dalam keadaan panas dan padat, dan inti luar berupa cairan. mantel bumi juga tidak berupa cairan, namun keadaannya sedemikian rupa sehingga aliran panas dari inti didistribusikan secara konveksi, yakni distribusi panas yang diikuti pergerakan partikel.

Struktur BumiStruktur bagian dalam Bumi kita.

Kerak bumi terbagi 2 macam: kerak samudera yang tipis dan padat; dan kerak benua yang tebal namun kerapatannya lebih kecil daripada kerak samudera. Kerak bumi ini menyusun litosfer bersama dengan bagian teratas lapisan mantel. Karena mantel di bawah litosfer bergerak oleh konveksi, maka bagian litosfer terkena imbasnya, mengakibatkan litosfer juga bergerak. Arthur Holmes awalnya menyampaikan hipotesa gerak konveksi di lapisan dalam bumi ini pada 1920, dan belakangan digunakan untuk menjelaskan kenapa lempeng bergerak.

Benua Awal’

Hipotesa yang dikemukakan Wegener menyatakan bahwa dahulunya bumi ini hanya terdiri atas 1 benua saja, yang disebut Pangaea (dibaca pan-gæia). Benua granit dengan kerapatan rendah itu terpecah-pecah dan “terapung” di atas lautanbasalt, dengan perumpamaan seperti gunung es yang terapung di lautan. Beberapa pecahan saling bertemu dan membentuk benua baru seperti yang kita diami saat ini.

Hipotesa ini awalnya tak diterima secara luas karena dianggap tak masuk akal: bagaimana pecahan itu bisa bergerak? Pada masa itu dianggap bagian litosfer merupakan padatan penuh. Baru setelah Holmes mengemukakan teorinya tentang gerak konveksi di dalam bumi, hipotesa Wegener mulai diperhitungkan.

Tahun 1960an teori tektonik lempeng dikemukakan, setelah ditemukan bukti bahwa kulit bumi memang bergerak. Bukti-bukti itu antara lain

  • Adanya Bukit Tengah Samudera (Mid-oceanic Ridge). Magma keluar dari renggangan antara 2 lempeng membentuk bukit yang terus meluas.
  • Arah medan magnet yang berbeda-beda pada berbagai batuan yang umurnya juga berbeda. Arah medan magnet batuan ini dipegaruhi oleh konveksi.
  • Fosil yang ditemukan di setiap benua dalam beberapa kasus menunjukkan kesamaan, menunjukkan bahwa makhluk hidup masa lalu pernah tersatukan dalam satu tempat.

Hipotesa Wegener menjadi pijakan untuk pengembangan teori lebih lanjut. Ilustrasi pecahnya pangaea menjadi benua-benua yang kita huni sekarang dapt dilihat dalam video erikut ini:

Lempeng-lempeng di Bumi

Berikut ini nama-nama lempeng primer yang ada di bumi kita:

  • Lempeng Afrika
  • Lempeng Antartika
  • Lempeng Eurasia
  • Lempeng Indo-Australia
  • Lempeng Amerika Utara
  • Lempeng Pasifik
  • Lempeng Amerika Selatan

Selain lempeng primer itu, ada lagi lempeng sekunder dan tersier. Mengenai lempeng sekunder dan tersier, silakan lihat daftar nama-namanya di halamanWikipedia ini.

Batas Lempeng

Ada 3 jenis batas lempeng sesuai dengan arah gerak lempeng-lempeng yang terlibat:

Batas konvergenBatas konvergen antara lempeng Pasifik dengan Indo-Australia

  • Batas Konvergen: Yakni batas antara 2 lempeng yang saling mendekat satu sama lain. Lempeng yang saling mendekat tentunya bertabrakan satu sama lain, menimbulkan apa yang disebut:
    • Zona subduksi (subduction zone) ⇒ jika tabrakan menyebabkan salah satu lempeng tertekan ke bawah. Biasanya kerak samudera (yang lebih tipis) akan tertekan ke bawah kerak benua, menyebabkan muncul parit samudera (oceanic trench), dan di kerak benua muncul barisan gunung api. Daerah di sekitar zona subduksi sangat rawan gempa. Contoh zona subduksi adalah di sepanjang lepas pantai barat Sumatera. Zona subduksi Sumatera ini diikuti juga oleh adanya barisan pegunungan vulkanik yang dikenal dengan nama Bukit Barisan.
    • Zona tabrakan benua (continental collision) ⇒ jika lempeng yang bertabrakan keduanya mengandung kerak benua, menyebabkan hadirnya pegunungan yang tinggi. Contohnya adalah pegunungan Himalaya yang hadir akibat tabrakan lempeng India dengan Eurasia.
  • Batas divergenMid-Oceanic Ridge di tengah samudra Atlantik

  • Batas Divergen: Terjadi karena gerak saling menjauh antar lempeng, membentuk apa yang disebut Bukit Tengah Samudera (Mid-oceanic Ridge/MOR). Batuan di sekitar MOR usianya lebih muda daripada di kawasan yang lebih jauh sebab di kawasan MOR terjadi pembentukan batu baru dari magma yang keluar di sini. Gerak dua lempeng yang masing-masing memiliki kerak samudera yang saling menjauh menyebabkan lantai samudera menjadi semakin lebar (seafloor spreading). Contoh MOR yang terkenal adalah Mid Atlantic Ridge, yakni batas antara lempeng Amerika Selatan dengan lempeng Afrika
  • Batas Transform: Terdapat pada lempeng yang saling bergerak bersisian. Bisa menyebabkan gempa namun biasanya tidak sedahsyat gempa pada batas konvergen. Contohnya adalah pada patahan San Andreas di California, Amerika Serikat.

Gempa Tektonik dan Gunung Api

Gempa bumi dapat terjadi di kawasan batas lempeng, dimana penyebab gempa tektonik itu adalah adanya gerakan lempeng tersebut. Yang paling sering mengalami gempa bumi dan cenderung dengan skala yang besar adalah di kawasan batas konvergen, sebab interaksi yang terjadi antara lempeng adalah saling menabrak. Tercatat gempa bumi dahsyat di sepanjang sejarah dunia terjadi di batas konvergen. Gempa 7,9 SR di Sumatera Barat 30 September 2009 adalah salah satu contohnya.

Barisan pegunungan berapi dapat terbentuk di batas konvergen yang mempertemukan kerak benua dengan kerak samudera. Pada kasus ini, lempeng dengan kerak samudra akan menghunjam ke bawah lempeng dengan kerak benua dan memicu mengalirnya magma dari perut bumi ke luar. Hunjaman ini akan mendorong kerak benua sedikit sehingga terbentuk gunung, dan terjadi pula rengkahan di bawah gunung sehingga magma yang mengalir tadi akan mengambil jalan keluar lewat rengkahan tersebut. Magma terkumpul dalam celah di kerak bumi dan membentuk dapur magma. Demikianlah proses terbentuknya gunung api.

proses gunung apiProses terbentuknya gunung api. Dapur magma terbentuk di kerak bumi.

Jika yang bertemu adalah sesama kerak benua, yang akan terbentuk adalah pegunungan tinggi namun dengan aktivitas vulkanik rendah (contohnya Himalaya). Dan jika yang bertemu adalah sama-sama kerak samudera, akan terbentuk gunung api tengah laut.

Sekalipun dengan teknologi manusia sudah bisa memperkirakan gerak lempeng, hingga sekarang belum ada satupun teknologi yang dapat memperkirakan kapan terjadinya gempa bumi maupun gunung meletus. Sejauh ini yang bisa dilakukan para peneliti geofisika adalah memperkirakan bahwa sebuah gempa dan letusan gunung berpeluang terjadi, namun tanpa mengetahui kapan dan dimana persisnya.

By Edwards

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: